Berbagi Gerak di Tepi Hutan Kaldera
MULANYA Suprapto Suryodarmo menggerakkan tangan dan kakinya di halaman pondok itu. Lalu Su Wen-Chi turut serta. Tak butuh waktu lama bagi Ramli Ibrahim dan Benny Krisnawardi ikut bergabung. Alunan seruling bambu dari Bisma, musikus yang kebetulan hadir di pinggiran hutan Kaldera, Bogor, Jawa Barat, mengiringi gerakan tari bebas itu. Tak ada panggung depan atau belakang. Mereka menari lepas, merespons gerak satu sama lain. Sepuluh menit kemudian, satu demi satu penari yang lebih muda turut bergabung. Ada yang mengambil tempat di tengah Prapto dan Wen-Chi. Ada yang naik ke atas batu, ada yang berkelompok.
Mereka melebur dengan senior-senior mereka. Tak ada jarak. Improvisasi itu terjadi dalam lokakarya yang digelar Akademi Indonesian Dance Festival (IDF) sepanjang 1-7 Mei 2016 di Pondok Kaldera—sebuah ”alternative space” yang dikelola perupa Hanafi. Sebanyak 16 penari dan koreografer muda terlibat. Mereka terpilih setelah diseleksi selama dua bulan. Tiga di antara mereka dijadwalkan tampil dalam pertunjukan kecil IDF yang digelar pada 1-5 November tahun ini. ”Lokakarya ini merupakan pendalaman dan penguatan teknik untuk mereka,” kata Nungki Kusumastuti, pendiri IDF. Mentor sengaja dipilih para penari senior yang memiliki latar belakang gerak berbeda agar para peserta merasakan beragam teknik. Prapto, misalnya, adalah tokoh meditasi gerak dari Solo. Benny Krisnawardi, bekas murid Gusmiati Suid (almarhum), dasar kepenariannya bertolak dari silat Minang. Akan halnya Ramli Ibrahim, koreografer Malaysia, pendiri Sutra Dance Theater, dikenal mendalami tari India, Bharatanatyam.
Baca Juga : PEMBURU HARTA KARUN MIKROBIOLOGI LAUT
Di India, dia memperoleh penghargaan penari asing terbaik yang menarikan Odissi, satu dari delapan bentuk tari klasik India. Sedangkan Su Wen-Chi adalah koreografer Taiwan pendiri Komunitas YiLab, kelompok eksperimental para seniman media digital Taiwan yang berusaha mencari format pertunjukan baru dengan mengintegrasikan tubuh dan teknologi. ”Saya banyak bekerja dengan teknologi. Teknologi adalah perpanjangan tubuh kita. Kita kontrol teknologi atau sebaliknya,” ujar Wen-Chi. Lokakarya yang diberikan Wen-Chi sendiri unik. Ia membagi-bagikan sebuah kertas modul untuk membikin camera obscura dari kertas.
Komentar
Posting Komentar